#Matan_Bab_1
Dan dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((إن الله تعالى يرفع بهذا الكتاب أقواما و يضع به آخرين))[رواه مسلم]
"Sesungguhnya Allah Ta'ala akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan (sebab) kitab ini (yakni al-quran) dan (Allah juga akan) merendahkan derajat (beberapa kaum) yang lain dengan (sebab)nya pula." (HR Muslim)
Dan dari Abu Umamah Al-Bahily1) رضي الله عنه berkata:
"Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
((اقرأوا القرآن ؛ فإنه يأتى يوم القيامة شفيعا لأصحابه))[رواه مسلم]
" Bacalah al-quran; karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya"
(HR Muslim)
Dan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, dari Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((لاحسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل و آناء النهار، و رجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل و آناء النهار)) [رواه البخاري و مسلم]
"Tidak ada hasad2) kecuali pada 2 golongan:
🥝seseorang yang Allah karuniakan kepadanya al-quran lalu ia menegakkannya sepanjang3) malam dan sepanjang siang, dan seseorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang".
(HR Al-Bukhari dan Muslim)
Dan kami juga telah meriwayatkannya dari riwayat Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه dengan lafadzh:
((لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق، و رجل آتاه الله حكمة فهو يقضى بها و يعلمها))
"Tidak ada hasad kecuali terhadap 2 golongan:
🍓seseorang yang Allah berikan harta kepadanya lalu Dia mengarahkan orang itu untuk menghabiskan harta tersebut di (jalan) al-haq, dan
🍓seseorang yang Allah karuniakan hikmah kepadanya lalu orang itu pun berhukum dengannya dan mengajarkannya (kepada manusia)."
Dan dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
((من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله به حسنة، و الحسنة بعشر أمثالها، لا أقول {{آلم}} حرف، و لكن ألف حرف، و لام حرف، و ميم حرف)) [رواه أبو عيسى محمد بن عيسى الترمذي، و قال حديث حسن صحيح].
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah Ta'ala maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan (dibalas) dengan 10x lipatnya. Aku tidak mengatakan ﴾﴾آلم﴿﴿ itu satu huruf, akan tetapi ﴾﴾ا)﴿﴿ satu huruf, ﴾﴾ل﴿﴿ satu huruf, dan ﴾﴾م﴿﴿ satu huruf".
(Hadits diriwayatkan oleh Abu 'Isa Muhammad bin 'Isa At-Tirmidzi4), dan beliau berkata, " hadits hasan shahih").
Keterangan:
1) Abu Umamah Al-Bahili :
Namanya Shudai bin Ajlan, nasab kepada Bahilah, sebuah kabilah yang terkenal.
2) al-hasad (الحسد):
Berangan² agar hilangnya kenikmatan dari orang lain, dan ghibthoh (الغبطة) adalah berangan² agar mendapatkan kenikmatan yang semisal dengan yang dimiliki orang lain tanpa berharap agar nikmat itu hilang dari orang tersebut.
🍌Dan hasad hukumnya haram,
🍌sedangkan ghibthoh bila dalam hal kebaikan maka itu merupakan hal yang terpuji dan disukai.
Adapun yang dimaksud dengan sabda beliau صلى الله عليه و سلم,
((لا حسد إلا في اثنتين))
Yaitu:
" tidak ada ghibthoh yang terpuji untuk berkeinginan kuat padanya kecuali terhadap 2 golongan."
3)sepanjang malam (آناء), yakni (pada) jam² (di waktu malam).
Pada bentuk tunggalnya terdapat 4 dialek:
➖إنا
➖أنا
dengan mengkasrah (ء) dan memfathahkannya, dan
➖إني
➖إنو
dengan (ي) dan (و), sedangkan (ء) dikasrah.
Semisal dengannya pula; lafadzh (الآلاء), artinya (النعم=kenikmatan²). Pada bentuk tunggalnya terdapat 4 dialek:
➖إلا
➖ألا
➖إلي
➖إلو
Dan seluruh lafadzh ini telah dihikayatkan oleh Al-Wahidy.
4) At-Tirmidzi:
Dinasabkan kepada Tirmidz, berkata Abu Sa'ad As-Sam'ani,
"Itu adalah sebuah negeri di perbatasan sungai Balkha (yang disebut juga sungai Jiihun)".
Dinyatakan tentang penisbatan kepada desa Tirmidz:
🥕Tirmidzi, dengan mengkasrah ت dan م.
🥕Turmudzi, dengan mendhommahkan keduanya,
🥕Tarmidzi, dengan memfathah ت dan mengkasrah م.
Demikian 3 bentuk penghikayatan dari As-Sam'ani.
#Penjelasan_Bab_1
Dan dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:
((إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما و يضع به آخرين)) [رواه مسلم]
"Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan sebab al-quran dan Allah merendahkan derajat suatu kaum yang lain dengan sebab al-quran itu pula".
[HR Muslim]
Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (5/281) mengatakan:
" Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim (2/201), Ad-Darimi (2/443), dan Ibnu Majah (no.206 - tahqiq Al-A'dzhomi) dari jalur Az-Zuhri dari 'Amir bin Watsilah bahwasanya Nafi' bin 'Abdil Harits berjumpa dengan Umar di 'Asfan (sebuah kota di antara Makkah dan Madinah) dan dahulu Umar mempekerjakannya di Makkah. Maka Umar bertanya,
"Siapakah yang telah kau pekerjakan untuk penduduk Al-Waadi?"
Nafi' menjawab,
"Ibnu Abza."
Berkata Umar,
"Dan siapakah Ibnu Abza?"
Nafi' menjawab,
"Maula*) diantara maula² kami."
Berkata Umar,
"Engkau mewakilkan seorang maula untuk mereka?!"
Nafi' menjelaskan,
"Sesungguhnya dia adalah seorang qari' (pembaca) kitabullah عز و جل dan sesungguhnya dia adalah seorang yang 'alim dalam ilmu Fara'idh (ilmu waris)."
Umar berkata,
"Ketahuilah sesungguhnya Nabi kalian صلى الله عليه و سلم telah bersabda,
((....))" Umar pun menyampaikan hadits ini.
*)maula: bekas budak.
Berkata Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz رحمه الله:
"Dengan sebab al-qur'an itu, Allah mengangkat derajat beberapa kaum yang mengamalkannya dan mereka bersungguh², sehingga jadilah mereka berada di puncak (amalan terhadap al-quran). Allah mengangkat derajat mereka dengan sebab al-quran, dan jadilah mereka para ulama yang mulia.
Sedangkan beberapa kaum yang lain mereka mengabaikan al-quran dan menyimpang dari jalannya al-quran, maka merekapun binasa dan menjadilah mereka orang² yang terlantar, tak ada nilainya, dikarenakan mereka tidak menegakkan perintah Allah."
🍒🍰🍧
Penjelasan dalam Syarh Al-Misykah:
((إن الله يرفع بهذا الكتاب))
"Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan al-quran ini"
Yakni dengan beriman kepadanya (al-quran), mengagungkan kedudukannya, dan mengamalkannya. Dan yang dimaukan dengan ((الكتاب)) (dalam lafadz hadits ini) yaitu al-quran yang telah mencapai derajat kemuliaan dan menampakkan burhan (keterangan/bukti) dengan pencapaian yang tidak pernah dicapai oleh selainnya dari kitab² yang telah diturunkan kepada para rasul² terdahulu.
((أقواما))
"Beberapa kaum"
Yaitu (meninggikan) derajat beberapa jama'ah/kelompok (orang) yang banyak di dunia dan akhirat dengan memberi kehidupan kepada mereka dengan kehidupan yang baik di dunia dan menjadikan mereka termasuk dari orang² yang Allah beri nikmat atas mereka di akhirat.
((و يضع به آخرين))
"Dan merendahkan (derajat) beberapa kaum yang lain"
Yakni (orang²) yang mereka berada di atas keadaan yang menyelisihi (kelompok pertama) tadi dari tingkatan² yang sempurna menjadi yang paling rendah di antara orang² rendahan.
Allah تعالى berfirman,
﴾يضل به كثيرا و يهدي به كثيرا﴿
"Dengan (perumpamaan) itu Allah sesatkan banyak orang dan Allah juga memberi petunjuk dengan (perumpamaan) itu kepada banyak (orang lainnya)".
(QS Al-Baqarah: 26)
Sehingga (al-quran) ini ibarat air bagi orang² yang dicintai (Allah) (namun seperti) darah bagi orang² yang terhalangi (dari kebaikan).
Dan (Allah) عز و جل berfirman,
﴾و ننزل من القرآن ما هو شفاء و رحمة للمؤمنين و لا يزيد الظالمين إلا خسارا﴿
"Dan Kami turunkan dari al-quran itu suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang² yang beriman, dan tidaklah menambah bagi orang² yang dzalim itu kecuali kerugian"
(QS Al-Isra':82)
Berkata Ath-Thiibi:
"Maka barangsiapa yang membacanya dalam keadaan ikhlas (niatnya), maka Allah akan mengangkat (derajat)nya, dan barangsiapa yang membacanya dalam keadaan riya' (ingin dilihat dan dipuji oleh manusia) juga tidak mengamalkannya, maka Allah akan merendahkan (derajat)nya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
Dan disebutkan oleh Al-Baghawi dengan sanadnya di dalam (kitab) "Al-Ma'aalim" bahwasanya Nafi' bin Al-Harits berjumpa dengan Umar bin Al-Khaththab di Asfan dan dahulu Umar telah mempekerjakannya untuk penduduk Makkah, maka Umarpun bertanya kepadanya,
"Siapakah yang engkau wakilkan untuk penduduk Al-Waadii -yakni penduduk Makkah- ?"
Nafi menjawab,
"Aku wakilkan untuk mereka Ibnu Abza".
Berkata Umar,
" Dan siapakah Ibnu Abza? "
Nafi' mengatakan,
"Seorang maula diantara maula² kami."
Berkata Umar (keheranan),
"Engkau mewakilkan untuk mereka seorang maula??”
Nafi menjawab,
" Wahai Amiirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah seorang pemuda qaari'ul qur'an (pembaca Al-quran), 'alim dalam masalah fara'idh, juga seorang qadhi".
Maka berkata Umar,
"Ketahuilah bahwasanya Nabi kalian صلى الله عليه و سلم telah bersabda,
((Sesungguhnya Allah تعالى akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan sebab al-quran ini dan Allah akan merendahkan derajat beberapa kaum yang lain dengan sebab al-quran pula))".
🍞🧀🍣🍧
Dan dari Abu Umamah رضي الله عنه berkata, Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
((اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه))
"Bacalah oleh kalian al-qur'an karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya."
[HR Muslim]
Dijelaskan oleh Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله:
"Berkata al-Imam An-Nawawi didalam kitab Riyaadhus Shalihin Kitab Al-Fadhaa'il bab Fadhlu Qiro'atil Qur'an dari Abu Umamah رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((اقرؤوا القرآن))
"Bacalah oleh kalian al-qur'an"
Nabi صلى الله عليه و سلم memerintahkan untuk membaca al-qur'an dan menetapkannya (tanpa ada batasan). Maka (hukum) qiro'ah al-qur'an adalah mustahab di setiap waktu dan dalam berbagai keadaan, kecuali apabila seseorang sedang dalam hajat yakni buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) maka janganlah dia membaca al-qur'an karena al-qur'an itu diagungkan dan dimuliakan. Sehingga tidaklah boleh membaca al-qur'an dalam keadaan seperti ini.
Dan setiap kamu bila seseorang sedang bersama keluarganya (yaitu istri/suaminya) dalam keadaan jima' maka sesungguhnya dia tidak boleh membaca al-qur'an akan tetapi dia mengucapkan do'a ketika hendak menjima'inya:
((بسم الله اللهم جنبنا الشيطان و جنب الشيطان ما رزقتنا))
"Dengan nama Allah, Ya Allah!
Jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah dari syaitan pada apa yang Engkau rizkikan kepada kami."
Bersabda Nabi صلى الله عليه و سلم,
((اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه))
"Bacalah oleh kalian al-qur'an karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya".
Apabila telah tegak hari kiamat, Allah عز و جل akan menjadikan pahala dari al-qur'an ini sebagai sesuatu yang berdiri sendiri yang akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya. Ia memberikan syafa'at kepada mereka disisi Allah سبحانه و تعالى.
Maka sesungguhnya al-qur'an apabila seseorang membacanya dengan tartil (tilawah) dengan mengharapkan pahala disisi Allah, maka baginya dengan setiap huruf yang ia baca (akan dibalas) dengan 10 kebaikan."
🥐🍳🥛
🚂🚃🚏
Redaksi hadits selengkapnya dari hadits ini:
Dan dari Abu Umamah berkata,
"Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
((اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه، اقرؤوا الزهراوين : البقرة و سورة آل عمران، فإنهما تأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان أو كأنهما غيايتان أو كأنهما غرقان من طير صواف، تحاجان عن أصحابهما. اقرؤوا سورة البقرة، فإن أخذها بحركة و تركها حسرة، و لا تستطيعوا البطلة))
"Bacalah al-qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawaini (yakni) Al-Baqarah dan surat Ali-Imran, karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari kiamat seakan² keduanya adalah 2 potongan awan, atau seakan² keduanya adalah 2 cahaya atau seakan² keduanya adalah 2 kawanan burung yang berbaris, memberikan hujjah tentang para pembacanya.
Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya melakukannya adalah barakah sedangkan meninggalkannya adalah penyesalan. Dan ia (Al-Baqarah) takkan mampu dikuasai oleh para tukang sihir""
[HR Muslim]
Penjelasan:
Dan dari Abu Umamah berkata,
"Aku mendengar Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((اقرؤوا القرآن))
"Bacalah al-qur'an"
Yakni jadikanlah qiro'ah al-qur'an sebagai ghanimah dan terus-meneruslah dalam tilawahnya.
((فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا))
"Karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at"
Yakni memberikan syafa'at.
((لأصحابه))
"Bagi para pembacanya."
Yakni mereka yang menegakkan adab² (terhadap) al-qur'an.
((اقرؤوا))
"Bacalah oleh kalian."
Yakni secara khusus..
((الزهراني))
"Az-Zahrawaini"
Bentuk mutsanna dari الزهراء (cahaya), dan الزهراء adalah mu'annats dari الأزهر, yakni yang bersinar dengan sinar yang sangat terang. Yaitu 2 yang menyinari dengan cahaya sinarnya dan petunjuknya serta besarnya pahala keduanya. Maka seakan² keduanya bila dinisbatkan kepada selain mereka disisi Allah laksana
kedudukan 2 bulan diatas segenap bintang².
Dan dikatakan:
Karena kemasyhuran keduanya menyerupai 2 bulan.
((البقرة و سورة آل عمران))
"Al-Baqarah dan surat Ali-Imran"
Nashob sebagai badal atau atau dengan taqdir dari ((أعني)), dan boleh juga dirofa'.
Dan 2 surat ini dinamakan dengan Az-Zahrawaini karena begitu banyaknya cahaya hukum² syari'at dan al-asma'ul husna al-'aaliyah (di dalamnya).
Dan penyebutan kata ((السورة)) pada surat yang kedua tanpa (disebutkan pada surat) yang pertama adalah untuk menjelaskan bolehnya setiap dari keduanya --yaitu boleh mengatakan "surat Al-Baqarah" atau langsung mengatakan "Al-Baqarah"--.
((فإنه ما))
"Karena sesungguhnya keduanya."
Yakni pahala keduanya yang pantas untuk didapatkan oleh orang membacanya dengan tartil (tilawah) serta mengamalkannya. Atau keduanya (pada hari kiamat nanti akan) memiliki bentuk dan jasad, dan rupa.
((تأتيان))
"Akan datang"
Yaitu hadir.
((يوم القيامة كأنهما غمامتان))
"Pada hari kiamat seakan² keduanya adalah 2 potongan awan".
Yaitu 2 awan yang menaungi pembacanya dari panasnya tempat berdiri (di Padang Mahsyar).
Dikatakan:
Maksud ((غمامة)) adalah apa² yang menutupi (dari) sinar matahari dan menghilangkan kuatnya terik (matahari) darinya.
((أو غيايتان))
"Atau 2 cahaya"
Kata ((غيايتان)) dengan 2 huruf ي yaitu (sinar) yang lebih rendah dari teriknya (matahari) (yang diperoleh) kedua surat (ini) dan lebih dekat di kepala pembacanya sebagaimana yang dilakukan pada para raja sehingga didapatkan darinya naungan dan cahaya sekaligus.
((أو فرقان))
"Atau 2 kawanan.."
Dengan mengkasroh huruf ف, yakni 2 kelompok.
((من طير))
"Burung"
Kata (طير) adalah bentuk jamak dari (طائر).
((صواف))
"Yang berbaris"
Kata (صواف) adalah jamak dari (صافة) yaitu sekumpulan (burung) yang berdiri diatas shaf/barisan atau yang mengembang sayap²nya sebagiannya bersambungan dengan sebagian yang lain, dan ini lebih jelas dari dua (perumpamaan) yang sebelumnya dikarenakan tidak pernah terlihat hal demikian di dunia kecuali pada apa yang terjadi terhadap Sulaiman عليه الصلاة و السلام, dan..
((أو))
"Atau.."
Disini terkandung kemungkinan adanya keraguan pada si perawi dan adanya pilihan dalam penyerupaan 2 surat ini.
Dan yang benar dalam hal ini adalah untuk mengelompokkan para pembaca tilawah dikarenakan atau dari ucapan Rasul صلى الله عليه و سلم, bukan dari keragu²an para rawi karena teraturnya para rawi (dalam meriwayatkan hadits ini) diatas metode yang satu.
Berkata Ath-Thiibi:
"Atau membuat jadi bermacam².. maka (permisalan) pertama adalah untuk orang yang membaca kedua surat ini namun tidak memahami maknanya. (Permisalan) kedua untuk orang yang mengumpulkan antara keduanya (yaitu membaca dan memahami), dan (permisalan) ketiga bagi orang yang melengkapi antara membaca dan memahami dengan mengajarkan kepada selainnya."
((تحاجان))
"Memberikan hujjah"
Yaitu 2 surat tersebut menghalang²i (neraka) Jahim dan Zabaniyah. Atau keduanya memberikan argumen dan beradu pendapat dengan Ar-Rabb atau dengan lawannya.
((عن أصحابهما))
"(Tentang) para pembacanya"
Dan ini adalah kinayah dari bentuk mubalaghoh dalam (masalah) syafa'at.
((اقرؤوا سورة البقرة))
"Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah"
Berkata Ath-Thiibi:
"(Ini adalah bentuk) pengkhususan setelah pengkhususan setelah keumuman.
🍓 Pertama:
Beliau صلى الله عليه و سلم memerintahkan untuk membaca al-qur'an dan menetapkan adanya syafa'at dengannya.
🍓 Kemudian beliau صلى الله عليه و سلم mengkhususkan Az-Zahrawaini dan menggantungkan dengan keduanya adanya keselamatan dari panasnya hari kiamat melalui proses perdebatan.
🍓Dan yang ketiga, Rasulullah صلى الله عليه و سلم menyendirikan Al-Baqarah dan menggantungkan dengannya 3 perkara, ketika beliau bersabda,
((فإن أخذها))
"Maka sesungguhnya mengambilnya"
Yakni tekun diatas tilawahnya dan mentadabburi makna²nya serta beramal dengan apa² terkandung di dalamnya.
((بركة))
"(Adalah) barakah"
Yaitu manfaat yang besar.
((و تركها))
"Dan meninggalkannya"
Dengan dinashob dan bisa juga dirofa', yaitu meninggalkannya dan yang semisalnya.
((حسرة))
"(Adalah) penyesalan".
Yakni penyesalan di hari kiamat, sebagaimana yang telah warid,
((ليس يتحسر أهل الجنة إلا على ساعة مرة بهم و لم يذكروا الله فيها))
"Tidaklah menyesal penduduk jannah kecuali pada waktu yang terlewat dari mereka sedangkan mereka tidak berdzikir kepada Allah padanya."
((و لا يستطيعوا))
"Dan takkan mampu dikuasai"
Dengan bentuk ta'nits dan tadzkir, yaitu tidak mampu untuk melampauinya.
((البطلة))
"Para tukang sihir".
Yakni para juru sihir dan para pemalas karena panjangnya surat ini.
Dan dikatakan:
"Yakni tukang sihir dikarenakan apa yang datang dengannya adalah batil, mereka dinamakan dengan nama dari perbuatan mereka yang batil, yaitu mereka tidak pantas untuk mendapatkannya dan tidak diberikan taufik untuk melakukannya."
Dan bisa pula dikatakan:
"Maknanya adalah para tukang sihir tidak akan mampu untuk mengadakan perkara yang batil padanya ataupun pada pembacanya, berdasarkan firman-Nya Ta'ala didalamnya,
﴿و ما هم بضارين به من أحد إلا بإذن الله﴾
"Dan mereka tidak akan mampu berbuat kemudharatan dengannya dari seorangpun kecuali dengan seizin Allah."
(Al-ayat).
🍖🌭🍵
Dan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل و آناء النهار. و رجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل و آناء النهار))
"Tidak ada hasad kecuali dalam 2 perkara:
Seseorang yang Allah karuniakan untuknya al-qur'an maka diapun menegakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang, dan seseorang yang Allah karuniakan untuknya harta maka diapun menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang."
[Muttafaqun 'Alayhi]
Berkata Asy-syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz رحمه الله:
"Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((لا حسد إلا في اثنتين))
"Tidak ada hasad kecuali dalam 2 perkara"
Yakni:
"Tidak ada ghibthoh"
Maka al-hasad disini maksudnya "al-ghibthoh". Yakni:
"Tidak ada sesuatupun yang pantas untuk seseorang dighibthohi dengannya dan berangan² untuk menjadi semisalnya kecuali pada 2 perkara:
🍭 seseorang yang Allah karuniakan al-qur'an lalu dia menegakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang, dia membacanya dengan tilawah dan beribadah dengannya.
🍭dan seseorang yang Allah karuniakan harta lalu dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang".
Dan dalam lafadz yang lain,
((رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل و النهار، و رجل آتاه الله الحكمة فهو يفضي بها و يعلمها))
"Seseorang yang Allah karuniakan untuknya al-qur'an maka diapun menegakkannya sepanjang malam dan siang, dan seseorang yang Allah karuniakan untuknya hikmah maka diapun berhukum dengannya dan mengajarkannya".
Dan "al-hikmah" adalah "al-fiqh fiiddiin (kefaqihan dalam agama)".
Maka yang dimaksud adalah seorang mukmin bertafaqquh (mendalami) ilmu agama, mempelajari serta bersungguh² dalam qiro'atul qur'an dan menginfakkan harta. Maka ini baginya merupakan keadaan yang mulia dan martabat yang tinggi dikarenakan ilmunya, kefaqihannya dan infaknya.
Maka sudah sepantasnya bagi seorang mukmin untuk ghibthoh pada yang semisal ini, serta berangan² untuk bisa menjadi semisalnya dalam inayah terhadap al-qur'an dan dalam infaknya dengan harta, juga dalam tafaqquh didalam agama."
🥧🥟☕️
Dalam Syarh Al-Misykah:
Dan dari Ibnu Umar berkata, bersabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم :
((لا حسد))
"Tidak ada hasad"
Yakni: tidak ada ghibthoh.
((إلا على اثنتين))
"Kecuali pada 2 perkara"
Dan dikatakan:
"Seandainya hasad itu boleh; pasti akan dibolehkan atas keduanya"
((رجل))
"Seseorang.."
Dengan dijarr alal badaliyyah, dan dikatakan pula:
Dengan rofa' 'alaa taqdiir (هما) atau (منهما) atau (أحدهما).
((آتاه الله القرآن))
"Yang Allah karuniakan untuknya al-qur'an".
Yakni siapa yang padanya ada hafalan dari al-qur'an sebagaimana sudah sepantasnya.
((فهو يقوم به))
"Lalu dia menegakkannya"
Yakni dengan tilawahnya dan menghafalkan perkara² pokoknya, atau dengan memperhatikan hukum² dan makna²nya, atau mengamalkan perintah² dan (menjauhi) larangan²nya, atau shalat dengannya dan berhias dengan adab²nya.
((آناء الليل و آناء النهار))
"Sepanjang malam dan sepanjang siang".
Yaitu pada waktu²nya. Kata (آناء) merupakan bentuk jamak dari (إنى) dengan kasroh dengan wazan (معى), dan (إنو) dan (إني) dengan mensukun ن. Dan maknanya bahwasanya tidak terlalaikan darinya kecuali sedikit saja dari waktu².
((و رجل))
"Dan seseorang"
Dengan 2 sisi penggambaran.
((آتاه الله مالا))
"(Yang) Allah karuniakan untuknya harta"
Yakni harta yang halal.
((فهو ينفق))
"Maka diapun berinfak"
Yakni ikhlas karena Allah pada bentuk² kebaikan dari harta tsb.
((آناء الليل و آناء النهار))
"Sepanjang malam dan sepanjang siang"
Yakni pada waktu²nya.
((سرا و علانية))
"Secara sembunyi² maupun terang²an"
Dan bisa jadi ini adalah bentuk nukat (sebuah istilah dalam ilmu balaghoh) dari didahulukannya kata (الليل) di 2 tempat (dalam hadits ini).
Berkata Miiraak:
"Hasad terbagi menjadi 2: hakiki dan majazi.
🍋maka hasad yang hakiki yaitu berangan² akan hilangnya nikmat dari pemiliknya, dan hasad yang seperti ini haram dengan kesepakatan kaum muslimin bersama nash² yang sharih.
🍋 adapun hasad majazi maka itu adalah ghibthoh, yakni mengangan²kan untuk memiliki semisal nikmat yang dimiliki orang lain tanpa berangan² agar nikmat tersebut hilang dari pemiliknya."
Yaitu ghibthoh apabila terjadi pada perkara² dunia maka hukumnya mubah. Dan apabila terjadi pada perkara² keta'atan maka hukumnya mustahab. Dan yang dimaukan dalam hadits ini:
Tidak ada ghibthoh yang terpuji kecuali dalam 2 tabiat ini".
Selesai.
Yakni pada keduanya dan yang semisalnya. Dan oleh karena itu berkata Al-Mudzhir,
"Yakni tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berangan² agar dia memperoleh semisal pemilik suatu nikmat kecuali bila nikmat tersebut termasuk dari perkara yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala, seperti tilawatul qur'an, bersedekah dengan harta benda dan lain sebagainya dari perkara² kebaikan". Selesai.
Yakni dari jenis² ibadah al-badaniyah dan keta'atan² al-maaliyah.
Hadits ini muttafaqun 'alayhi.
Berkata Al-Jazari didalam "Tashiihul Mashaabiih":
"Dan diriwayatkan (juga) oleh At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah."
🍙🍤🥫
Dijelaskan oleh Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله:
Berkata penulis (yakni Al-Imam An-Nawawi رحمه الله) didalam bab Fadhlul Qur'an dalam kitab Riyaadhus Shalihin pada hadits yang dinukil dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
((لا حسد إلا في اثنتين))
"Tidak ada hasad kecuali dalam 2 perkara"
Al-hasad, berkata para ulama, sesungguhnya maknanya disini ialah al-ghibthoh, yakni tak ada sesuatupun (yang pantas) untuk ghibthoh padanya kecuali pada 2 perkara ini, dan hal itu disebabkan karena manusia; sebagian mereka ghibthoh pada sebagian yang lain didalam perkara² dunia dan di dalam perkara² akhirat. Maka engkaupun menjumpai -misalnya- sebagian manusia ghibthoh terhadap seseorang ini ketika Allah memberikan kepadanya karunia berupa harta benda, anak², istri, istana², mobil², dan yang serupa dengan itu. Mereka mengatakan, "dia adalah orang yang beruntung", "dia adalah orang yang berbahagia" dan yang serupa dengan itu. Sebagian orang hasad dan ghibthoh pada apa yang Allah berikan kepadanya dari nikmat kesehatan dan keselamatan, gedung² dan yang selain itu. Mereka ghibthoh kepadanya dengan alasan bahwa dia memiliki kemuliaan dan kehormatan di tengah kaumnya. Apabila dia berbicara pasti didengar, dan apabila dia mengerjakan sesuatu, akan ditiru. Mereka pun mengatakan, "inilah dia orang yang beruntung".
Akan tetapi Nabi صلى الله عليه و سلم menjelaskan bahwasanya orang yang pantas untuk dighibthohi adalah orang yang terdapat padanya 2 perkara ini:
☕️yang pertama, orang yang Allah berikan untuknya hikmah (dan) al-qur'an lalu diapun menegakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.
Allah menganugerahi baginya al-qur'an yang dia hafalkan, dia pahami serta dia amalkan di sepanjang malam dan siang. Dia menegakkannya sambil memikirkan apa saja yang Allah عز و جل firmankan tentang shalat. Allah berfirman,
﴿و أقيموا الصلاة﴾
"Dan dirikanlah shalat"
Maka diapun mendirikannya.
(Dia memikirkan apa yang) Allah firmankan tentang zakat; Allah berfirman,
﴿و آتوا الزكاة﴾
"Dan tunaikanlah zakat"
Lalu diapun menunaikannya.
(Dia memikirkan) apa yang Allah firmankan tentang kedua orang tua; Allah berfirman,
﴿و اعبدوا الله و لا تشركوا به شيئا و بالوالدين إحسانا﴾
"Dan beribadahlah kalian kepada Allah, dan jangan menyekutukannya dengan, dan sesuatupun berbuat baiklah kalian kepada kedua orang tua."
Dan apa yang Allah firmankan tentang silaturahim,
﴿و الذين يصلون ما أمر الله به أن يوصل﴾
"Dan orang² yang menyambung apa yang Allah perintahkan untuk disambung (tali silaturahim)"
Maka diapun menyambung hubungan rahimnya.
(Dia memikirkan) apa yang Allah firmankan tentang tetangga. Allah Ta'ala berfirman,
﴿و الجار ذي القربى و الجار الجنب﴾
"Dan tetangga yang memiliki hak kekerabatan dan tetangga yang jauh (tidak memiliki hubungan kerabat)"
Dan seterusnya.. Maka engkaupun mendapatinya menegakkan al-qur'an di sepanjang malam dan siang.
Inilah ghibthoh, inilah ghanimah, inilah keberuntungan.
☕️yang kedua, seseorang yang Allah berikan untuknya harta. Yakni dia menjadi kaya lalu diapun menginfakkannya di sepanjang malam dan sepanjang siang, yakni (diinfakkan) di jalan Allah pada apa² yang Allah عز و جل ridhai. Yaitu sesuatu yang Allah ridhai bagi dia untuk menginfakkan harta padanya, (misalnya) membangun masjid², bersedekah kepada orang² fakir, membantu para mujahidin, membantu orang² yang tertimpa musibah, dan yang selain itu.
Intinya; tidaklah dia mendapati sesuatu yang akan mendekatkan (dirinya) kepada Allah kecuali dia akan mencurahkan hartanya didalam sesuatu itu, siang maupun malam. Tidak pelit dan tidak pula boros sehingga jadi berlebihan dan melampaui batas, bahkan dia menginfakkannya lillaahi, billaahi dan fillaahi.
Berinfak karena Allah dengan mengharapkan pertolongan dari-Nya, dengan berjalan diatas syariat-Nya. Inilah dia orang yang seharusnya dighibthohi.
Adapun orang yang disisinya memiliki perbendaharaan dunia yang dia bernikmat² dengannya seperti bernikmat²nya hewan ternak dengan makanan ternaknya lalu makanannya habis begitua saja, (maka) ini bukanlah orang yang pantas dihasadi, dan tidak boleh hasad pada hal seperti itu karena itu adalah kerugian lagi merugikan.
Akan tetapi, orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah maka inilah dia yang pantas dighibthohi. Dan disini terdapat dalil atas bahwasanya sudah semestinya bagi seorang insan untuk menegakkan al-qur'an di sepanjang malam dan siang. (Dan) senantiasa menjadikan amalan²nya seluruhnya dibangun di atas al-qur'an (dengan) menjalankan petunjuk dari al-qur'an. Dan bahwasanya sudah sepantasnya bagi seorang yang Allah berikan kepadanya harta untuk menunaikan hak harta tersebut dan memenuhi kewajibannya serta menginfakkannya ketika infaknya itu adalah (dalam perkara) kebaikan.
Wallaahul Muwaffiq.
🍵🍲🥄
Dan dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه berkata, telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم,
((لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق. و رجل آتاه الله الحكمة فهو يقضي بها و يعلمها))
"Tidak ada hasad kecuali pada 2 perkara: seseorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu Dia mengarahkan orang itu untuk menghabiskannya di (jalan) al-haq. Dan seseorang yang Allah berikan kepadanya al-hikmah kemudian dia berhukum dengannya dan mengajarkannya."
[Muttafaqun'alayhi]
Berkata Asy-Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa'di رحمه الله:
Al-hasad ada 2 jenis:
🥣 jenis yang pertama yaitu jenis hasad yang diharamkan lagi tercela apapun keadaannya, yaitu seseorang berangan² agar nikmat Allah hilang dari seorang hamba -baik nikmat diiniyah maupun duniawi- sama saja apakah hanya sebatas dia menginginkan hal itu dengan keinginan yang telah menetap di dalam hatinya sedangkan dia tidak berusaha menjihadi dirinya untuk menghilangkan perasaan itu, ataukah bersamaan dengan itu dia berusaha untuk menghilangkan dan mengikis nikmat (yang dimiliki orang yang dihasadinya) tersebut, dan ini adalah yang paling buruk, karena sesungguhnya perbuatan ini adalah kedzaliman yang berlapis².
Dan hasad jenis inilah yang akan memakan kebaikan² laksana api memakan kayu bakar.
🥣jenis yang kedua, yakni seseorang tidak berangan² akan hilangnya nikmat Allah dari orang lain, dan akan tetapi dia mengangankan untuk memperoleh nikmat yang semisal dengan orang tersebut, atau lebih dari itu, atau kurang dari itu.
Maka hasad yang seperti ini terbagi menjadi 2 macam:
Yang terpuji dan yang tidak terpuji.
🥡yang terpuji adalah seseorang melihat adanya nikmat Allah yang bersifat diiniyah pada diri seorang hamba lalu dia berandai² seandainya dia juga memperoleh nikmat yang semisal dengan itu. Maka ini termasuk dalam bab tamannil khoir (angan² kebaikan) karena sesungguhnya pelakunya akan berusaha dan beramal untuk mendapatkan apa yang diangankannya itu, maka itu adalah cahaya diatas cahaya.
Dan paling mulianya orang yang dighibthohi adalah:
🍸Orang yang memiliki harta yang dihasilkan dari (usaha) yang halal, kemudian Allah mengarahkan dan memberinya taufik untuk berinfak di (jalan) al-haq, pada hak² yang wajib (dipenuhi) maupun yang mustahab. Maka sesungguhnya ini adalah bukti keimanan yang paling agung, dan jenis perbuatan ihsan yang paling mulia.
🍸dan orang yang memiliki ilmu dan hikmah yang Allah ajarkan kepadanya, lalu Allah memberikan taufik agar dia mencurahkan nikmat tersebut dalam taklim (pengajaran) dan (ber)hukum diantara sesama manusia.
Maka 2 jenis ini adalah termasuk kebaikan yang tak ada sesuatupun yang bisa menyamainya (dikarenakan)
➖ Orang yang pertama, dia memberikan manfaat kepada makhluk dengan hartanya, dan menunaikan hajat² mereka. Dia berinfak didalam jalan² kebaikan sehingga (jalan² kebaikan itu) menjadi tegak dan manfaatnya terus berkesinambungan, serta kedudukannya* menjadi mulia.
*) Kedudukan dari jalan² kebaikan tsb.
➖ Orang yang kedua, dia telah memberikan manfaat kepada manusia dengan ilmunya. Disebarkannya antara agama dan ilmu yang dengannya para hamba mendapatkan petunjuk dalam seluruh urusan² mereka, baik dalam peribadatan, mu'amalah, dan yang selainnya.
Kemudian setelah 2 perkara ini; keberadaan ghibthoh yang diatas kebaikan adalah sesuai dengan keadaan org tsb dan derajatnya disisi Allah. Dan oleh karena ini; Allah Ta'ala memerintahkan dengan suka cita dan kabar gembira terkait didapatkannya kebaikan ini, dan sesungguhnya tidaklah diberikan taufik untuk itu kecuali orang² yang beruntung yang mulia serta tinggi (kedudukannya).
Allah Ta'ala berfirman,
﴿قل بفضل الله و برحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون﴾
"Katakanlah (wahai Muhammad), dengan keutamaan dari Allah dan dengan rahmat-Nya maka dengan sebab itu hendaklah mereka bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa² yang mereka kumpulkan"
(QS Yunus:58)
﴿و لا تستوى الحسنة و لا السيئة ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك و بينه عداوة كأنه ولي حميم (٣٤) و ما يلقاها إلا الذين صبروا و ما يلقاها إلا ذو حظ عظيم (٣٥)﴾
"Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba² orang yang diantaramu dan antara dia ada permusuhan seolah² telah menjadi teman yang sangat setia (34).
Sifat² yang baik itu tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang² yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang² yang mempunyai keberuntungan yang besar."
(QS Fushshilat:34-35)
Dan terkadang orang yang berangan² tentang sesuatu dari kebaikan² ini, dia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengerjakannya apabila benar niatannya dan berketetapan hati bahwa andaikan dia mampu untuk melakukan amalan tersebut maka sungguh² dia akan melakukannya, sebagaimana hal itu telah tetap dalam hadits dan terkhusus jika dia telah membuat perencanaan dan mengusahakan sebagian dari usahanya.
Dan adapun ghibthoh yang tidak terpuji yaitu seseorang mengangan²kan untuk memperoleh keinginan² dunia disebabkan karena kelezatannya dan memperturutkan hawa nafsu, sebagaimana firman Allah Ta'ala yang menghikayatkan tentang kaumnya Qarun,
﴿يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنه لذو حظ عظيم﴾
"Duhai kiranya kami memiliki semisal apa yang diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar² memiliki keberuntungan yang besar".
(QS Al-Qashash:79)
Maka sesungguhnya berangan² semisal keadaan orang yang berbuat kejelekan; maka diapun akan dibalas sesuai dengan niatnya, dan beban dosa yang dipikul oleh keduanya sama.
Maka perincian ini menjelaskan (tentang) hasad yang tercela dalam setiap keadaan dan (juga menjelaskan tentang) hasad yang itu merupakan ghibthoh, yang terpuji di satu keadaan tapi bisa pula tercela pada keadaan yang lain. Wallaahu A'lam.
Demikian pula diantara ajmaa'ud du'a :
Dan dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم dahulu berdoa, beliau mengucapkan:
((اللهم إني أسألك الهدى والتقى و العفاف و الغنى))
"Ya Allah! Sesungguhnya aku meminta darimu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dan rasa cukup (dari dunia)"
[HR Muslim]
Doa ini termasuk doa² yang paling ajma' dan yang paling bermanfaat. Didalamnya terkandung permintaan akan kebaikan agama dan kebaikan dunia. Maka sesungguhnya الهدى (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan التقى (ketakwaan) adalah amal shalih serta meninggalkan apa² yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan dengan itulah akan menjadi baik agama (seseorang). Karena sesungguhnya ad-diin yaitu ilmu² yang bermanfaat dan pengetahuan² yang benar, maka itulah الهدى. Dan menegakkan keta'atan kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah التقى.
Dan العفاف و الغنى (penjagaan diri dan rasa cukup) mencakup penjagaan diri dari makhluk dan penjagaan agar tidak terkaitkannya hati dengan mereka, kemudian rasa cukup dengan Allah dan rizki dari-Nya, qana'ah dengan apa yang ada padanya, juga agar mendapatkan apa yang menenangkan hati berupa (sesuatu) yang mencukupi.
Maka dengan itu, sempurnalah kebahagiaan hidup di dunia dan kelapangan hati. Itulah kehidupan yang baik.
Dan barangsiapa yang diberikan rizki berupa الهدى, التقى, العفاف, dan الغنى; maka (itu berarti) dia telah mencapai 2 kebahagiaan, (yaitu dia) telah mendapatkan segala yang diminta, dan ia telah selamat dari segala yang menakutkan.
Wallaahu A'lam.
🌽🍝🥛
Dan berkata Ibnu Muflih didalam kitabnya"Al-Adabusy Syar'iyyah":
Pasal:
"Pahala Membaca Al-qur'an Adalah Kebaikan Berkali Lipat Dari Setiap Hurufnya"
Dari Ibnu Mas'ud berkata, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
((من قرأ حرفا من كتاب الله فله حسنة و الحسنة بعشر أمثالها. لا أقول ﴿الم﴾ حرف و لكن ألف حرف و لام حرف و ميم حرف))
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka baginya satu kebaikan dan (dari) satu kebaikan akan dibalas dengan 10x lipatnya. Aku tidak mengatakan (الم) itu satu huruf; akan tetapi (ألف) itu satu huruf, (لام) satu huruf, dan (ميم) satu huruf"
(HR At-Tirmidzi, dan ia berkata "hasan shahih gharib")
Dan yang dimaukan dengan huruf disini disisi ashaab kami (yakni sebagian para ulama) yaitu huruf hijaiyyah yang merupakan pembentuk dari الكلمة (kata). Makna ini dijelaskan oleh Al-Qadhi dalam ucapannya mengenai qiro'ah Hamzah. Dan disebutkan oleh mayoritas (ulama) tentang orang yang belum lancar (bacaan) Al-fatihahnya; apakah dia membaca (surat) selain Al-Fatihah dengan bilangan huruf ataukah bilangan ayat?.
Dan sungguh Ahmad telah berkata dalam riwayat Harb,
"Apabila qiro'ah²nya berbeda² dan di salah satu dari qiro'ah² itu ada tambahan huruf; maka aku memilih (qiro'ah) yang ada tambahannya sehingga takkan terluputkan dari 10 kebaikan, misalnya:
﴿فأزلهما فأزلهما و وصى و أوصى﴾"
Berkata Al-Qadhi:
"Maka sungguh beliau (Imam Ahmad) telah menentukan bahwa beliau memilih (qiro'ah) yang ada tambahan (lafadzhnya) sebab dengan itu ia menginginkan tambahan pahala dengan adanya tambahan huruf."
Dan Asy-Syaikh Taqiyuddin telah memilih (pendapat) bahwasanya yang dimaukan dengan huruf (dalam hadits ini) yakni kata (الكلمة) sama saja apakah itu isim, fi'il, huruf, atau istilah, dan beliau berhujjah dengan khobar (hadits) yang (sedang) disebutkan (ini), karena kalau seandainya bukan yang dimaukan dengan huruf dalam hadits ini adalah kata melainkan huruf hijaiyyah; maka pada ﴾ألف لام ميم﴿ seharusnya terdapat 90 kebaikan, sedangkan khobar yang ada (dalam hadits ini) hanyalah (Allah) menjadikan padanya (pahala) 30 kebaikan.
Dan masalah ini kalaupun menjadi khilaf yang telah dipahami dan telah diketahui tentang penetapan huruf; maka sungguh telah dijalankan oleh Yang Membuat syari'at disini, Wallaahu A'lam."
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله:
"Sebagaimana dahulu mereka menetapkan huruf (dalam hadits ini) adalah isim; merekapun mengatakan:
"Ini adalah huruf yang gharib (asing)", yakni (maksudnya) "lafadz isim tsb gharib".
Dan Sibawaih telah membagi kalam menjadi:
🥒isim (kata benda)
🥒 fi'il (kata kerja), dan
🥒 huruf yang memiliki makna (huruf ma'aani) selain makna isim dan fi'il.
Dan setiap dari bagian² ini dinamakan dengan huruf, namun terkhusus bagian yang ketiga adalah huruf yang memiliki makna selain makna isim dan bukan pula fi'il.
Dan huruf² hijaiyyah dinamakan dengan nama hurufnya masing² dan (nama² dari huruf hijaiyyah ini) adalah isim. Dan "الحرف" mencakup nama² (huruf² hijaiyyah) ini dan yang selainnya, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه و سلم:
((من قرأ القرآن فأعربه فله بكل حرف عشر حسنات. أما أني لا أقول ﴿الم﴾ حرف و لكن ألف حرف و لام حرف و ميم حرف))
"Barangsiapa yang membaca al-qur'an kemudian memperindah bacaannya maka baginya (pahala dari) setiap huruf (sebanyak) 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan ﴾الم﴿ itu satu huruf, akan tetapi ﴾ألف﴿ satu huruf, ﴾لام﴿ satu huruf, dan ﴾ميم﴿ satu huruf."
Dan sungguh Al-khalil telah bertanya kepada para muridnya tentang pengucapan huruf (ز) dari kata زيد (nama orang Zaid) lalu mereka menjawab:
"زاي (Zai)"
Iapun mengatakan,
"Kalian menjawab dengan isim, dan hanyalah hurufnya adalah ز".
Kemudian sesungguhnya para ahli nahwu mengistilahkan atas bahwasanya
🍌 sesuatu yang dinamai dengan (nama) dalam bahasa (Arab) dengan الحرف (huruf) ini disebut dengan الكلمة (kata), dan
🍌 bahwasanya lafadz الحرف (huruf) adalah khusus untuk apa² yang datang membawa suatu makna selain (makna) isim dan fi'il, seperti huruf² jarr dan yang semisalnya.
🍌dan adapun lafadzh² huruf hijaiyyah maka terkadang diibaratkan sebagai huruf dari diri huruf itu sendiri dalam suatu lafadzh, dan terkadang diibaratkan sebagai isim (nama) dari huruf tsb.
Dan ketika istilah² ini telah mendominasi maka bisa menyebabkan kesalahpahaman pada orang yang ditanyai (dalam mudzakarah) bahwa seperti inilah (tata) bahasa Arab."
Dan berkata Syaikhul Islam juga:
"Dan lafadz الحرف (huruf dalam hadits ini), dimaukan dengannya isim, fi'il, huruf² ma'aani dan huruf² hijaiyyah.
Dan oleh karena ini Al-khalil bertanya kepada murid²nya,
"Bagaimana kalian mengucapkan ز (huruf Zai) pada kata "زيد" (Zaid)?"
Mereka menjawab,
"زاي"
Maka Al-khalil berkata,
"Kalian mengucapkan isim (nama)nya dan hanyalah hurufnya adalah زه."
Al-khalil menjelaskan bahwa ini semua yang dinamakan dengan huruf² hijaiyyah adalah isim. Dan kebanyakan yang dijumpai dari kalam para pendahulu adalah:
"Ini adalah huruf yang gharib"
Mereka membuat ibarat² seperti itu untuk isim tamm (isim yang sempurna).
Maka sabda beliau صلى الله عليه و سلم:
((فله بكل حرف))
"Maka baginya dengan setiap satu huruf"
Dipermisalkan dengan sabda-Nya:
((و لكن ألف حرف و لام حرف و ميم حرف))
"Akan tetapi ألف satu huruf, لام satu huruf, dan ميم satu huruf".
Dan atas dasar keterangan tsb; maka ﴾ذلك﴿ satu huruf, ﴾الكتاب﴿ satu huruf, dst.
Dan sungguh telah dikatakan:
"Sesungguhnya ﴾ذاك﴿ adalah termasuk huruf, dan ﴾الكتاب﴿ juga termasuk dari huruf.
Dan telah diriwayatkan hal itu secara terperinci dari berbagai jalur periwayatan."
🍋🍉🍅
Referensi:
1) As-Silsilah Ash-Shahihah, Al-Albani
2)Syarh Riyaadhis Shalihin, Ibnu Baaz
3)Mirqaatul Mafaatiih Syarh Misykaatil Mashaabih
4)Syarh Riyaadhis Shalihin Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله, syarh hadits no.998
5)Bahjatu Quluubil Abraar wa Qurratu 'Uyuunil Akhyaar Fii Syarh Jawaami'il Akhbaar, Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di رحمه الله
6)Al-Adabusy Syar'iyyah, Ibnu Muflih
5)Bahjatu Quluubil Abraar wa Qurratu 'Uyuunil Akhyaar Fii Syarh Jawaami'il Akhbaar, Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di رحمه الله
6)Al-Adabusy Syar'iyyah, Ibnu Muflih
7)Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah 10/232-233, 12/108-109
